.CO.ID - JAKARTA Beberapa perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar siap mengalokasikan dividen dari keuntungan bersih tahun 2024 untuk para pemilik saham mereka. Para analis juga memprediksi bahwa perusahaan-perusahaan tersebut memiliki potensi pertumbuhan yang positif meskipun situasi bursa saham saat ini masih kurang menggembirakan.
Satu dari sekian emiten yang akan mengumumkan pembagian dividen mendatang adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Keputusan manajemen BBCA mencakup pemberian dividen final untuk periode buku tahunan 2024 sebesar Rp 250 per saham.
Secara keseluruhan, dividen yang diberikan oleh BBCA untuk tahun 2024 mencapai angka Rp 37 triliun. Jumlah ini telah memasukkan dividen interim dari bank swasta terbesar di Indonesia itu sebesar Rp 50 per saham yang dibagikan pada bulan Desember 2024.
Di samping itu, PT Astra International Tbk (ASII) telah menyarankan pembayaran dividen akhir senilai Rp 308 per saham untuk periode buku tahun 2024. Usulan tersebut akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), yang direncanakan berlangsung pada Mei 2025 mendatang.
Saham dengan Yield Rendah, Dividen BBCA Tidak Terlalu Menggiurkan
Sebelumnya, ASII sudah membayarkan dividen interim senilai Rp 98 per saham pada Oktober 2024. Oleh karena itu, jumlah total dividen yang diajukan untuk tahun buku 2024 meningkat menjadi Rp 408 per saham.
PT XL Axiata Tbk (EXCL) berencana menyarankan pengalokasian dividen sebesar Rp 1,12 triliun dari keuntungan tahun fiskal 2024. Setiap pemilik saham EXCL akan menerima dividen sejumlah Rp 87,5 per lembar saham. Keputusan final tentang pemberian dividen tersebut akan diumumkan pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan tanggal 25 Maret 2025 mendatang.
Terdapat juga PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang menyatakan nantinya akan mengekang rasionya pembagian dividen di kisaran 60%, sesuai dengan kondisi selama lima tahun belakangan. Apabila kita mengasumsikan kalau BMRI tetap meneruskan pola tersebut untuk tahun ini, diperkirakan jumlah dividen yang akan diserahkan adalah sebesar Rp 33,46 triliun.
Angka tersebut mewakili 60% dari keuntungan bank di tahun 2024 yaitu sebesar Rp 55,78 triliun.
Analis dan Direktur dari PT Rumah Para Pedagang Siswoyo Adi Joe menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan yang sudah menginformasikan niat mereka untuk membayarkan dividen umumnya memiliki posisi finansial yang kuat. Mereka mampu mencetak laba bahkan saat bursa saham sedang dalam kondisi tidak stabil.
"Emiten-emiten seperti BBCA, BMRI, dan ASII mampu mencapai keuntungan secara konsisten, termasuk saat pandemi kemarin, yang membuat mereka tetap berkomitmen dalam pembagian dividen," ujarnya pada hari Kamis (13/3).
Menurut Kiswoyo, saham-saham yang memberikan dividen ini menawarkan peluang bagus bagi para pemodal dalam jangka waktu lama. Namun, pada tahun ini perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar seperti BBCA, BMRI, ASII, bahkan EXCL akan mengalami kesulitan akibat ketidaktetapan ekonomi serta dampak negatif dari kondisi industri mereka sendiri.
Dalam hal pendapatan, perusahaan-perusahaan yang membayar dividen masih mempunyai potensi pertumbuhan secara positif. Namun, ketika melihat keuntungan bersihnya, ada risiko penurunan laju pertumbuhan atau bahkan bisa jadi stabil tanpa banyak perubahan.
"Teruntuk laba bersih, ada potensi untuk dicapai atau hampir tidak mungkin mengalami kerugian. Nilainya sendiri dapat meningkat, stabil tanpa perubahan signifikan, atau justru menurun," kata Kiswoyo.
Kiswoyo secara pribadi menyarankan untuk membeli saham BBCA dan ASII dengan tujuan harga sampai akhir tahun berturut-turut sebesar Rp 11.000 per saham dan Rp 6.000 per saham. Investor baik yang sudah berpengalaman ataupun pemula masih dapat mengumpulkan kedua jenis surat pengakuan utang ini melalui metode penambahan pembelian secara berkala.
Beberapa Saham Unggulan di Sektor Perbankan Akan Membagikan Dividen, Yang Manakah yang Patut Dibeli?
Pada saat bersamaan, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memperingatkan tentang dampak potensial dari fluktuasi pasar saham pada saham ASII. Meskipun demikian, karena merupakan perusahaan dengan ragam bisnis yang luas mencakup bidang otomotif, mesin konstruksi, layanan finansial, serta infrastruktur, ASII dipandang mampu untuk lebih lentah dalam menghadapi risiko investasi.
"Apabila volatilitas pasar tetap berlangsung, ASII mungkin akan mencari opsi pembiayaan alternatif selain dari pasar saham, misalnya dengan menerbitkan surat utang atau mengambil kredit perbankan guna memperkuat strategi pertumbuhan usahanya," jelasnya pada hari Kamis (13/3).
Liza pun merekomendasikan trading buy Saham ASII dengan tujuan harga mencapai Rp 5.200 per saham.
Silahkan berkomentar biar rame :D