, BANGKA -- Sejak subuh hari, wangi dupa dan bau kertas sembahyang menguar dari TPU Sentosa Pangkalpinang.
Ribuan orang keturunan Tionghoa dari seluruh wilayah menyatu dalam perayaan Ceng Beng, dikenal juga sebagai Qing Ming, yaitu upacara tahunan yang dipakai untuk memperingati nenek moyang mereka.
Seorang di antara mereka adalah Achiung (66), penduduk asli Pangkalpinang, yang tiba bersama keluarganya guna membersihkan kuburan orangtuanya serta melakukan sembahyang.
Pukul 05.00 WIB tepat, Achiung telah tiba di area kuburan tersebut.
Di tangananya ada beragam sajian seperti ayam, daging babi, buah-buahan, dan beraneka minuman yang hendak diserahkan di kuburan ibunya.
"Kami melakukannya sebagai tradisi tahunan. Untuk kami, perayaan Ceng Beng lebih dari sekedar rutinitas; itu adalah bentuk penghargaan terhadap para leluhur yang telah meninggalkan kita," kata Achiung ketika ditemui pada hari Jumat, 4 April 2025.
Pembersihan kuburan sudah dimulai beberapa hari yang lalu.
Keluarga dan kerabat juga ikut serta sehingga di puncak perayaan, mereka cukup melakukan penyelesaian akhir saja.
Setelah membersihkan kuburan, keluarga Achiung melanjutkan upacara dengan menghidupkan lilin serta dupa, yang merupakan tanda penuntun untuk roh para leluhurnya.
Mereka pun meletakkan kertas berwarna-warni di atas makam untuk mengindikasikan bahwa leluhur sudah dikunjungi dan diberkati.
"Di luar upaya penghargaan terhadap nenek moyang, kesempatan ini pun menjadi waktu pertemuan penting bagi seluruh anggota keluarga. Saya membawa anak-anak saya kembali ke Pangkalpinang supaya mereka dapat memahami serta melanjutkan warisan budaya tersebut," jelasnya.
Ceng Beng adalah suatu kebiasaan yang telah bertahan selama ribuan tahun dalam komunitas orang Tionghoa.
Tradisi ini menggambarkan kepentingan nilai-nilai dalam budaya Tionghoa, yaitu penghargaan terhadap orang tua dan leluhur.
Di Permukiman Sentosa, atmosfer yang sarat dengan emosi dan penghargaan dapat dirasakan di seluruh area.
Cahaya lilin berpendar, doa-doanya dikumandangkan, dan barisan keluarga yang sujud di hadapan kuburan menggambarkan bahwa ritual ini masih lestari, dilestarikan dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Walaupun zaman senantiasa berkembang, buat Achiung serta tidak sedikit keluarga lainnya, Ceng Beng bakal tetap jadi momen suci guna memperingati dan menyegani orang-orang yang sudah tiada, sekaligus memberikan pelajaran pada anak-anak muda soal kepentingan menjaga warisan budaya serta menunjukkan penghargaan pada nenek moyang.
"Tahun ini atmosfer Ceng Beng mungkin tampak lebih sunyi, namun nilai dan arti penting dari Ceng Beng tak akan pernah kita lupakan. Justru demikian, kita harus mengenalkannya kepada generasi penerus," imbuhnya.
(/Andini Dwi Hasanah)
Silahkan berkomentar biar rame :D