Kondisi Ekonomi Memprihatinkan, Atur Keuangan dengan Bijak Sebelum Idulfitri

tisubodas
0

Mendekati peringatan Hari Raya Idul Fitri, orang-orang umumnya memperlihatkan pola perilaku yang lebih fokus pada penggunaan barang atau jasa. Ini merupakan bagian dari dinamika sosial dan aspek budaya ketika momen keagamaan seperti itu datang.

Prof Dr Tika Widiastuti SE MSi dr Sp A(K) menyampaikan pendapatnya mengenai manajemen keuangan yang efektif serta situasi kemampuan konsumsi warga saat ini.

"Kemampuan pembelian publik pada dasarnya telah menurun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya," ungkap Profesor Utama Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), hal ini disampaikan dalam pernyataan tertulis seperti dilansir oleh Basra, Jumat (28/3).

Menurut dia, situasi perekonomian nasional sekarang kurang menguntungkan. Banyak faktor menjadi alasan, termasuk di antaranya pelemahan nilai tukar rupiah.

Secara umum, pada tiap perayaan agama apapun, selalu ada biaya tambahan. Untuk menjaga stabilitas finansial, penting untuk memastikan bahwa belanja ekstra ini tak melebihi pemasukan ekstra yang kita miliki. Oleh karena itu, menyetarakan antara pengeluaran dengan pendapatan baru menjadi hal yang vital.

"Kami perlu merombak pandangan bahwa hal-hal serba konsumsi cenderung memiliki lebih banyak kerugian dibanding keuntungan. Oleh karena itu, cukupkanlah dengan apa yang diperlukan tanpa berlebihan," jelas Tika.

Dia juga menggarisbawahi kepentingan tabungan. Karena, tak seorang pun bisa memprediksi situasi finansial setelah perayaan.

Faktor-faktor yang menyebabkan pola konsumsi berlebihan antara lain dipengaruhi oleh tren di media sosial. Gaya hidup serba modern kerapkali mendorong orang untuk terus-menerus belanja demi mencukupi standar sosial, khususnya menjelang perayaan besar. Di saat seperti itu, umumnya individu sulit menentukan batasan antara apa yang benar-benar dibutuhkan dengan hanya sekedar hasrat semata.

"Tika mengatakan bahwa dia belum menyaksikan ada upaya untuk memberikan pendidikan keuangan kepada generasi saat ini," katanya.

Menurut dia, perlu adanya kebijakan yang diatur berdasarkan kelompok umur secara spesifik. Sebagai contoh, untuk kalangan Generasi Milenial dan Z, pihak berwenang bisa bekerja sama dengan selebriti daring agar menyampaikan informasi tentang manajemen uang melalui platform-media digital.

Selanjutnya, pendidikan melalui seminar pun bisa diterapkan. Banyaknya acara seminar selama Bulan Ramadhan ini bisa dioptimalkan untuk menjelaskan aspek-aspek tentang transaksi keuangan. Di samping itu, pihak berwenang juga dapat menyediakan opsi layanan atau produk perbankan yang merangsang semangat kerja dalam kalangan publik.

"Jangan meremehkan situasi finansial saat ini karena kondisinya memburuk dibanding sebelumnya. Perhatikan saja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah jatuh secara signifikan. Oleh karenanya, ada berbagai tanda yang menuntut kita untuk lebih waspada terhadap uang yang kita miliki," ungkap Tika.

Posting Komentar

0 Komentar

Silahkan berkomentar biar rame :D

Posting Komentar (0)
To Top